You Are Responsible For Who You Are.

Jadi begini, saya lama kelamaan mulai gerah sama prilaku teman dekat saya. A simple things but she just couldn’t understand that it was totally wrong. Bukan maksud membicarakan orang, ini hanya bersifat uneg-uneg dan koreksi dari saya. Teman saya ini, keraaaapkali menyalahkan beberapa orang terdekat jika sesuatu yang buruk mempengaruhi perilakunya.

Misal, akhir-akhir ini dia suka marah-marah. Intensitas marah-marahnya (menurut dia) melebihi kapasitas kemarahan dia sebelumnya dan dia menyalahkan teman saya si B yang notabene suka marah-marah (untuk hal-hal kecil yang gampang sewot). Lantas dia bilang “kayanya aku mulai terpengaruh deh sama kamu, suka marah-marah gitu… “. case number one. contoh lain, ketika dia merasa dirinya sekarang mulai terlihat jutek atau gampang jutek, katanya akhir2 ini kalau nanggapin orang mulai membalas dengan jutek, dia sendiri gak ngerti kenapa dia bisa begitu *nah loh*, padahal tadinya dia (katanya) gak jutek. Lantas dia mulai mengeluarkan kalimat saktinya “kayanya aku mulai ketularan kamu deh neng.. (saya) ikut-ikutan jadi Jutek”.Ya kalo saya jutek dikantor, terus dia ikut2an jutek, trus salah saya gituh?? case number two. Selanjutnya, ya tentu saja saya tidak akan membeberkan contoh2 kasus lain.

Tadinya saya menanggapi dan menimpali dengan bercanda, tapi lama-lama gerah juga kan? kita dianggap menularkan sesuatu yang buruk ke orang lain. Ya saya juga punya batas bercanda dan kesabaran. menurut saya, dia tidak pantas menyalahkan siapapun atas apapun prilaku buruk yang terjadi didalam dirinya. Karena kita ini kan pribadi yang sudah dewasa, dan punya benteng kokoh masing-masing. Bisa kan, kita memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kita tiru. Kalau lantas dia meniru jadi ikut marah-marah, trus kenapa nyalahin orang yang suka marah-marah? aren’t you responsible for who you are now?? not others.

Memang benar kita ini dibentuk oleh lingkungan di sekitar kita, akan tetapi bukankah Tuhan memberikan kita akal untuk kemudian menelaah mana yang baik untuk kita tiru dan naluri ketika kita sadar itu tidak baik dan merubah sikap buruk itu tersebut? Jadi, bersikaplah bijak sesuai dengan umur fisik kita sekarang. Kalau teman kita suka ngejek-ngejek anak buah, masak kita mau ikut-ikutan ngejek-ngejek juga? Kalau teman kita sholat gak ngadep kiblat, masa kita juga manut?

Well well.. se-simple itulah maksud saya. So please, do not ever blame others for who you are now. Because you are the one who responsible for everything that you have through on your own path.


Disclaimer:

||saya menulis ini dengan kesadaran penuh, tidak dipengaruhi oleh aroma-aroma PMS||

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s