Bom Waktu

Katamu, aku adalah bom waktu.

Bom yang sekarang telah dinyalakan sumbu waktunya, sehingga terus berjalan sampai tak terkira-kira waktunya dan kemudian aku bisa meledak kapan saja. Berhamburan berkeping-keping atau mungkin bertebaran sehalus debu.

Dan ketika aku meledak katamu, aku bukan milikmu lagi. Karena telah bertaburan disana dan disini. Kamu akan sulit memiliki aku seutuhnya. Mungkin, akan membutuhkan sedasawarsa jika kamu berusaha memunguti serpihan-serpihanku. Lantas katamu, aku akan menjadi milik sesuatu yang lain. Milik bumi. Karena aku akan menyatu dengan tanah. Hujan akan membuatku pekat kedalam tanah yang basah. Sinar matahari yang menyengat akan membuatku hangus legam dengan tanah. Angin akan membawaku ke segala tanah milik bumi.

Jika memang demikian, memang sekarang aku milikmu?

Jika memang demikian, aku ingin kamu menjadi bumiku. Tempat aku kembali, ketika aku sudah berarakan dari suatu bahan ledakan menjadi serpihan.

Jika memang demikian, aku ingin kamu menjadi tanah itu. Yang memelukku pekat dan akhirnya kita bersatu. Sampai bumi ini hilang oleh waktu.

||Jakarta 29 sept 2009. Bom waktu adalah kita 🙂 ||

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s