Nona dan Pemuda



Pintu itu akhirnya terbuka lebar-lebar untuk nya, setelah tak lelah ia mencoba mengetuk, hari demi hari, mengamati sekian masa demi masa, memberi irama pada halaman taman yang indah, menyirami rumput-rumput liar yang tak beraturan, dan menanami benih-benih bunga sejuta warna. Lalu mengapa setelah terbuka ia hanya terpaku sunyi diam penuh keraguan?


Tatapan kosong tak bergeming memenuhi seluruh jiwa matanya. Dia hanya terpaku duduk kembali mengamati dari jauh. Tak lagi mengetuk, dan memberi keceriaan. Dan Nona pun hanya mengamati dari bilik pintu,


“kembalilah kapan pun kau mau, beri kembali keceriaan itu pada taman ini. Masuklah kapan saja kau merasa sendiri, pedapa ini memang jauh dari kemewahan, tetapi kesederhanaan sangat baik, menghangatkan bagi jiwa mu yg kadang rapuh, dan kedinginan.” Nona menutup tirai dan menitikkan air mata pertama untuk nya. Menggenggam batu berwarna pelangi.


“dan sesungguhnya kamu tidak pernah berjalan sendiri, semesta ini teman mu. Cakrawala pelindung mu. Dan Bumi rumah mu. Bahkan salju yang membekukkan tubuh mu kini, sewaktu-waktu bisa menyejukkan jiwa mu yang kemarau. Sampai Jumpa Teman..”


Dan pemuda itu berjalan jauh meninggalkan pedapa Nona. Sambil tersenyum seakan mendengarkan apa yang nona katakan di balik pedapa. “Suatu saat, aku akan kembali, jika memang sudah saat nya. Tapi tidak saat ini.. . Kita akan bertemu lagi, dan akan aku bawakan salju yang terlembut selembut jiwa mu.. dan keceriaanku akan selalu ada dimana pun kamu berada, melalui bisikan angin senja itu..‘’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s