Tentang Kacamata


Dan bukan mauku menggunakan kacamata hitam itu, yang membuatku melihat segala-galanya menjadi buram tak menentu. Semua bagai pelangi hitam dengan suram yang tajam, semua tentang dia-dia yang lainnya atau tentang mereka dengan prasangka terpendam. Jangan salahkan aku atas penglihatan hati ini yang kadang tak lagi indah, seindah kalbu dahulu yang sebenarnya belum punah. Karena Indah kalbu itu masih ada disini, di hati ini.

Dan aku tak lagi berani menilai mereka atau dia-dia lainnya bila mengingat kata-kata mu. Aku hampir tak lagi mampu memandangnya dengan kacamata hitam ku. Karena semua sudah cukup. Karena semua sudah melampaui akal sehat ini. Karena semua telah berlebihan bagi logika ini. Mereka dan dia-dia yang lainnya tak lebih hanya manusia biasa, yang tak luput dari kekhilafan dunia, yang menggelapkan nurani mereka dan berkepanjangan menjadi buta. Begitu juga aku, si entah, atau aku-aku yang lainnya yang kerap khilaf, yang sebenarnya tak berhak menghakimi apapun atas kelakuan tubuh-tubuh mereka yang hanya menunggu insyaf dengan kata-kata atau prasangka lainnya. Karena mereka punya alasan untuk apapun itu. itu saja.

Akan aku hiraukan mereka terus bermain di taman bermainnya, hingga tiba saatnya mereka terjatuh akan jenuh di taman bermain itu dan mencari-cari tempat lain yang lebih bermakna. Bagi kehidupan jiwa.

Dan akan ku ganti kacamata hitamku, dengan yang merah jambu. Agar dunia seindah dan seirama dengan pelangi yang dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s