Abstraksi Pikiran



Beribu-ribu tanya berloncatan, dengan mengapa, mengaduh menyuburkan bibit-bibit risau yang semakin gaduh. Semakin bertanya, akankah kuat menghadapi serangan yang menghalangi angan. Akankah tetap teguh berdiri dalam jalanan yang penuh duri. Akankah tetap berjalan tegar dengan semangat yang tak kunjung pudar. Akankah mengelurkan air mata, yang lagi telah lelah berjatuhan membasahi raga.

Milik mu sangat kasat. Hanya hadirkan halus-halus semburat. Cukup membuat tiap-tiap udara menjerang, tapi tak menggelinjang. Menyemukan tiap arti deret hembusan dalam senyuman yang berdeburan.

Oh. Itu, disana! aku bertanya-tanya. Apakah itu pikat? Atau pukat? . Ternyata aku mencandu p u k a t. Pukat nan memikat dan menjerat. Bagai segar kabut yang membuat hanyut. Dengan jutaan ilusi dan imaji. Hembusan kata-kata riang pada angin malam yang membekukan ruang-ruang. Sesak penuh balada. Tawa dalam air mata.

Ah, Itu disana. Sang cakrawala Jingga keperakkan. Yang kian tertutupi malam perlahan. Namun tetap terlihat berkilauan. Namun aku sudahi menatapi. Karena senja sudah usai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s